SF Consulting     6 Oct 2026

Indonesia Masuki Triwulan IV 2026 Dengan Momentum Ekonomi Positif

(Jakarta) Perekonomian Indonesia memasuki Triwulan IV-2026 dengan sejumlah indikator yang menunjukkan penguatan. Stabilitas harga tetap terjaga, kinerja perdagangan eksternal mencatat surplus, sementara aktivitas manufaktur kembali berada di zona ekspansi. Perkembangan tersebut tercermin dari inflasi September 2026, neraca perdagangan Januari-Agustus 2026, serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur September 2026.
 
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan inflasi September 2026 mencapai 3,28 % secara tahunan (yoy), masih berada dalam sasaran nasional 2,5 % ± 1 %. Inflasi inti melandai menjadi 2,84 %, sedangkan inflasi administered prices (AP) turun menjadi 3,25 %. Namun, komponen volatile food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03 % yoy akibat dinamika permintaan dan penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura yang dipengaruhi cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.
 
Pemerintah, lanjut Haryo, memperkuat sejumlah kebijakan untuk menjaga daya beli dan ketahanan pangan, termasuk penyaluran PKH Tahap III, bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan pada Oktober-Desember 2026, serta percepatan program SPHP beras medium melalui Perum Bulog. Upaya tersebut juga didukung Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi cadangan beras pemerintah dan kerja sama antardaerah, serta penguatan produksi melalui pengelolaan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan wilayah rawan, dan sistem peringatan dini.
 
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$ 7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Ekspor ditopang sejumlah komoditas utama seperti besi dan baja senilai US$19,18 miliar yang tumbuh 4,88 %, CPO dan turunannya US$ 17,75 miliar yang tumbuh 6,57 %, serta batu bara US$ 16,58 miliar yang tumbuh 4,31%. Sementara itu, impor bahan baku/penolong dan barang modal mencapai US$ 170,12 miliar atau 91,3 % dari total impor, menunjukkan kebutuhan input produksi dan investasi domestik yang tetap kuat.
 
Penguatan aktivitas manufaktur juga tercermin dari PMI Manufaktur September 2026 yang naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus dan kembali masuk zona ekspansi. Kenaikan tersebut didorong pertumbuhan pesanan baru, produksi, pesanan ekspor, proyek baru, serta perbaikan daya beli. “Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional,” pungkas Haryo. (Rp)
 
Konsultan pajak 
https://bit.ly/sfcnews
#sfconsulting #sfgroup #pajakuntukkita #ekonomi #kanwilbeacukai #konsultan #pajak #legal #customs #transferpricing #compliance


Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 17068.99
USD 15710
GBP 19949.11
AUD 10293.61
SGD 11699.88
* Rupiah

Berlaku : 27 Mar 2024 - 2 Apr 2024