SF Consulting     11 May 2026

Pemerintah Dorong Hilirisasi Nikel ASEAN Lewat Kerja Sama RI-Filipina

(Cebu) Urgensi ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu fokus utama dalam rangkaian KTT ke-48 ASEAN. Dalam upaya memperkuat rantai pasok mineral kritis global, Indonesia dan Filipina resmi menjalin kerja sama strategis di sektor industri nikel melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation di Cebu, Filipina. Kesepakatan itu diteken oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).
 
Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung dalam agenda Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable dan disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque. Menko Airlangga menegaskan bahwa nikel kini memegang peranan penting dalam mendukung transisi energi di kawasan ASEAN.
 
Menurut Airlangga, produk turunan nikel dapat dimanfaatkan untuk memperkuat strategi ketahanan energi nasional maupun regional, khususnya melalui pengembangan teknologi penyimpanan energi. “Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan energi [energy storage], baik untuk baterai kendaraan listrik [EV] maupun baterai untuk penyimpanan energi panel surya,” ungkap Menko Airlangga dikutip Pada Minggu (10/05).
 
Kerja sama tersebut juga menjadi dasar pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor, yakni koridor industri yang akan mengintegrasikan kapasitas hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel dari Filipina. Airlangga menyebut skema ini akan memperkuat keamanan pasokan bahan baku bagi industri baterai dan baja tahan karat Indonesia, sekaligus mendorong Filipina naik kelas dalam rantai nilai industri nikel regional.
 
Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, kombinasi produksi nikel Indonesia dan Filipina menguasai 73,6 % produksi nikel dunia pada 2025. Indonesia menyumbang sekitar 66,7 % atau 2,6 juta ton, sementara Filipina mencapai 6,9 % atau 270 ribu ton. Selain pertukaran informasi perdagangan nikel, kerjasama APNI dan PNIA juga mencakup pengembangan teknologi hilirisasi, pemanfaatan produk sampingan industri pengolahan, hingga pengembangan sumber daya manusia. Pemerintah Indonesia pun akan mempercepat pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) guna mendukung investasi smelter dan industri bahan baku baterai berstandar internasional. (Rp)

Konsultan pajak 
https://bit.ly/sfcnews
#sfconsulting #sfgroup #pajakuntukkita #hilirisasi #kanwilbeacukai #konsultan #pajak #legal #customs #transferpricing #compliance


Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 17068.99
USD 15710
GBP 19949.11
AUD 10293.61
SGD 11699.88
* Rupiah

Berlaku : 27 Mar 2024 - 2 Apr 2024