Harian Kompas     29 Dec 2022

Setelah 15 Tahun, Singapura Naikkan Pajak Penjualan

Untuk pertama kali dalam 15 tahun terakhir ini Singapura akan menaikkan pajak penjualan sebesar 1 persen mulai 1 Januari 2023. Sejak hari pertama tahun 2023, pajak penjualan untuk segala macam barang dan jasa—dari bahan makanan hingga cincin berlian—naik dari 7 persen menjadi 8 persen.

Menurut rencana, pada 2024 pajak penjualan itu akan dinaikkan lagi 1 persen menjadi 9 persen kecuali jika perekonomian dunia membaik tahun depan. Pemerintah Singapura beralasan, langkah itu harus dilakukan untuk meningkatkan pendapatan demi membantu populasi negaranya yang makin menua.

Diperkirakan, seperempat dari jumlah total populasi 5,6 juta jiwa di negara itu akan berusia 65 tahun ke atas padatahun 2030. Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singapura Lawrence Wong menjelaskan, pendapatan dari kenaikan pajak penjualan itu akan digunakan untuk mendukung pengeluaran perawatan kesehatan Singapura dan merawat manula.

Kenaikan pajak penjualan dari 7 menjadi 9 persen pada 2024 diharapkan menghasilkan pendapatan pajak sebesar 3,5 miliar dollar Singapura setiap tahun. ”Tanpa kenaikan GST (pajak barang dan jasa), kami akan menghadapi risiko kesenjangan pendanaan struktural yang terus berlanjut, yang akan terus melebar dari tahun ke tahun,” kata Wong.

Untuk membantu rakyatnya, Pemerintah Singapura berjanji memberikan kepada hampir 3 juta warga Singapura setidaknya 700 dollar Singapura atau Rp 8,2 juta uang tunai selama lima tahun sebagai bagian dari ”paket jaminan”. Jika ditotal, uang bantuan itu sebanyak 8 miliar dollar Singapura atau Rp 93 triliun. Pemerintah juga berjanji meninjau kenaikan pajak kedua jika situasi perekonomian dunia membaik.

Pajak penjualan Singapura yang baru nanti, yakni 8 persen, sedikit lebih tinggi dari Thailand (7 persen) dan lebih rendah dari Indonesia (11 persen). Di banyak negara di Eropa, pajaknya mencapai 20 persen, sedangkan Jepang 10 persen. Pemerintah Singapura tetap melanjutkan rencana kebijakan itu ketika negara lain, seperti Thailand dan Italia, menyetujui keringanan pajak konsumsi untuk membantu warganya mengatasi krisis biaya hidup yang meningkat.

Menjelang pemberlakuan pajak baru dalam waktu dekat ini, sebagian warga Singapura bersegera belanja semua kebutuhan sebelum pajak dinaikkan. Soif Noor (28), warga Singapura, misalnya, sudah belanja segala macam keperluan rumah barunya, seperti furnitur dan perlengkapan lain, Rabu (28/12/2022). Padahal, ia baru bisa pindah ke rumah barunya empat bulan lagi.

Dengan belanja sekarang sebelum pajak naik, Soif mengaku bisa menghemat hingga 185 dollar AS. Karena belum bisa masuk ke rumah barunya, semua barang yang dibeliuntuk rumah barunya terpaksa dititipkan ke toko untuk sementara.

Dengan prinsip ”beli sekarang daripada nanti mahal”, banyak teman Soif membeli cincin pertunangan karena didesak pacarnya yang meminta mereka untuk melamar sekarang daripada nanti semua harga mahal. ”Bagi kami, yang penting sudah belanja barang-barang kebutuhan kami saja sehingga nanti kami tak perlu lagi memikirkannya,” ujar Soif.

Untuk mendorong belanja konsumen, banyak pertokoan mulai dari busana hingga furnitur menggemakan iklan promosi ”belanja cerdas”. Iklan-iklan mereka mendorong konsumen untuk ”mengalahkan kenaikan pajak barang dan jasa”. Di butik perhiasan LeCaine Gems, yang berada di mal kelas atas di dekat kawasan Marina Bay, salah satu pendiri, Michael LeCaine, mengatakan, ia mendorong pelanggan yang awalnya tak berencana belanja untuk membeli perhiasan.

Hasilnya, LeCaine Gems mengalami peningkatan penjualan sebesar 15 persen bulan lalu dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2021. Jaringan pertokoan perhiasan, SK Jewellery Group, melaporkan peningkatan 25 persen tahun ke tahun untuk periode September hingga November.

Menurut para ekonom, secara keseluruhan dampak kenaikan pajak penjualan di Singapura bisa diredam dengan lonjakan belanja konsumen sebelum kenaikan. Namun, ekonom OCBC, Selena Ling, menyebut dampak lonjakan belanja itu terhadap perekonomian secara keseluruhan tak terlalu terasa. Ia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun depan akan melambat karena konsumen mengurangi belanja berlebihan.


Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 17068.99
USD 15710
GBP 19949.11
AUD 10293.61
SGD 11699.88
* Rupiah

Berlaku : 27 Mar 2024 - 2 Apr 2024