Harian Bisnis Indonesia     25 Nov 2021

Asa Insentif Lanjutan Memudar

Bisnis, JAKARTA — Harapan pelaku industri otomotif terkait perpanjangan diskon pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM hingga tahun depan hampir dipastikan pupus. 

Kepada Bisnis, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan Neilmaldrin Noor menyatakan insentif yang akan habis masa berlakunya pada tahun depan tidak akan diperpanjang, termasuk diskon pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP) untuk mobil tertentu. 

Terkait hal tersebut, PT Astra Daihatsu Motor menilai kondisi pasar otomotif akan kembali ke arah sebelum PPnBM.

Marketing Director and Corporate Planning and Communication Director ADM Amelia Tjandra mengatakan dengan berhentinya insentif ini akan memetakan konsumen menjadi dua, yaitu konsumen yang benar-benar membutuhkan dan memiliki daya beli.“ 

Tapi yang tidak, maka mereka akan menunda pembelian,” ujar Amelia kepada Bisnis, Rabu (24/11). Adapun, pada tahun depan ADM menargetkan pangsa pasar di kisaran 17%.

Sementara itu, PT Toyota Astra Motors (TAM) masih menargetkan pangsa pasar di kisaran 33% atau yang terbesar, kendati insentif PPnBM tidak diperpanjang tahun depan.

Marketing Director TAM Anton Jimmy mengatakan pihaknya berterima kasih atas bantuan dari pemerintah selama ini dengan adanya insentif PPnBM.

Menurutnya, pasar otomotif saat ini ditentukan oleh berbagai faktor ekonomi dan situasi pandemi. Maka dari itu ,pihaknya mempersiapkan beberapa strategi untuk menggaet konsumen membeli mobil.

“Tentu kami persiapkan beberapa strategi baik produk, sales program, dan activity,” jelas Anton kepada Bisnis.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kinerja penjualan produk otomotif terkena imbas pandemi Covid-19 cukup dalam. Hal tersebut membawa efek berantai bagi perekonomian, salah satunya karena banyaknya tenaga kerja di sektor itu. 

Pemerintah pun menerbitkan relaksasi PPnBM untuk memicu kenaikan pembelian otomotif. Menurut Airlangga, insentif itu membuat penjualan mobil selama September 2021 sebanyak 84.110 unit, naik sekitar 41,5% dibandingkan dengan Februari 2021.

Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi sempat menyatakan insentif PPnBM terbukti menaikkan volume penjualan pabrik ke dealer sekitar 68% secara tahunan per September 2021.

Adapun, pihaknya telah menaikkan target penjualan tahun ini dari sebelumnya 750.000 unit menjadi 850.000 unit. Hal ini dengan mempertimbangkan geliat pasar dan pengaruh insentif PPnBM.

Penjualan mobil pada 2022 pun diperkirakan kembali meningkat dan akan berada pada level 900.000–950.000 unit. 

MOBIL LISTRIK

Pada perkembangan lain, Kementerian Perindustrian menyatakan pabrikan kendaraan belum mampu memenuhi target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mobil listrik karena keterbatasan kapasitas produksi dan pasokan bahan baku domestik yang rendah.

Hal itu pun mendorong revisi Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No.27/2020 sebagai aturan turunan dari Peratur-an Presiden No.55/2019 tentang percepatan program kendaraan listrik berbasis baterai.

Dalam PP No.55/2019, pemerintah menetapkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 40% untuk roda dua sampai 2023. 

Sementara untuk kendaraan roda empat, TKDN-nya dipatok sebesar 35% pada tahun ini, dan meningkat menjadi 40% pada 2022 hingga 2023.

Andi Komara, Pembina Industri Ahli Muda di Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (Imatap) Kemenperin, mengatakan hal tersebut merupakan aspirasi dari industri kendaraan.

“Berdasarkan kemampuan industri saat ini dan aspirasi dari perusahaan industri, cukup sulit mencapai pendalaman lokalisasi. 

Meskipun kami sudah memasukkan faktor R&D dan perakitan, ternyata masih cukup sulit untuk memenuhi target TKDN yang ada di Perpres 55,” kata Andi.


Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 16044.36
USD 14272
GBP 19056.28
AUD 10264.85
SGD 10436.42
* Rupiah

Berlaku : 1 Dec 2021 - 7 Dec 2021