Harian Kontan     12 Mar 2018

Isi SPT Pajak Bisa Semudah Membuat Akun Media Sosial Baru

Di zaman yang serba digital seperti saat ini, seharusnya sudah bukan eranya lagi antre berjam-jam untuk mengakses layanan publik. Salah satunya adalah dalam pelaporan surat pemberitahuan (SPT) pajak yang menjadi salah satu kewajiban seluruh wajib pajak di negeri ini.

DIREKTORAT Jenderal (Ditjen) Pajak tidak ingin realisasi pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) pajak menurun seperti terjadi pada tahun lalu. Oleh karena itu lah, otoritas perpajakan terus melakukan pembenahan; termasuk mempermudah pelaporan SPT.

Pada tahun lalu, hanya 11,3 juta SPT yang masuk ke Ditjen Pajak. Jumlah itu turun dari tahun 2016 yang sebanyak 11,5 juta SPT. Sedangkan tahun ini, Ditjen Pajak mentargetkan ada 17 juta SPT yang masuk.

Untuk mengejar target, tidak hanya mengandalkan sosialisasi yang dilakukan namun juga mempermudah proses pelaporannya. Salah satunya dengan memaksimalkan teknologi digital.

Di zaman serba digital dan tersambung di media sosial (medsos) ini, Ditjen Pajak bahkan ingin agar pengisian SPT semudah mendaftar akun di medsos baru. Hanya dengan berbekal wifi atau koneksi internet lainnya, wajib pajak bisa mengisi SPT walau sedang di kafe atau kantor dengan metode e-Filing!

Metode pengisian SPT dengan e-Filing, menurut pengalaman KONTAN, memang cukup mudah. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk mengisi SPT dengan lengkap. Waktu tersebut sudah memperhitungkan kebingungan-kebingungan selama mengisi. Berikut langkah-langkahnya.

Pertama, Anda harus punya Electronic Filing Identification Number (EFIN). Untuk mendapatkannya, Anda perlu mengajukan permohonan aktivasi EFIN dengan formulir yang bisa didownload sendiri. Cari saja keyword “form aktivasi EFIN” di mbah Google.

Habis mengisi, Anda datangi kantor pajak terdekat dengan menujukkan KTP asli dan kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan menyerahkan fotokopiannya serta menyampaikan alamat e-mail aktif. "Ini data rahasia, pengajuan permohonan EFIN harus dilakukan sendiri, tidak boleh dikuasakan," ujar Direktur P2 Humas Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama, pekan lalu.

Namun, bagaimana jika sudah punya EFIN, tapi lupa? Ini pasti banyak yang mengalami, karena akses e-filing hanya setahun sekali. "Ditjen Pajak membuka layanan informasi bagi yang lupa EFIN," terang Hestu.

Layanan ini dibuka melalui kanal Twitter @kring_pajak dan live chat di situs pajak. go.id. Anda tinggal konfirmasi data-data seperti nama, NPWP, alamat terdaftar pada saat registrasi EFIN, dan alamat e-mail.

Kalau EFIN sudah di tangan, pengisian SPT elektronik sudah bisa dimulai. Anda perlu login di djponline.pajak.go.id, atau mendaftar akun dulu bila belum terdaftar. Untuk mendaftar, hanya butuh mengisi EFIN dan NPWP.

Di beranda DJP Online, Anda bisa langsung memilih layanan e-Filing lalu membuat SPT. Agar lebih mudah, Anda bisa memilih form dengan panduan. Kemudian, Anda akan diminta menambahkan data-data Bukti Potong Anda yang diberikan oleh tempat Anda bekerja.

Setelahnya, Anda akan diminta mengisi penghasilan neto dan penghasilan lainnya, misalnya dari bunga, royalti, sewa, hadiah, dan keuntungan dari penjualan/pengalihan harta jika ada. Anda juga akan diminta mengisi penghasilan yang tidak termasuk Objek Pajak, misalnya bantuan/hibah, warisan, klaim asuransi, dan beasiswa jika ada.

Berikutnya, mengisi bagian penghasilan yang pajaknya sudah dipotong secara final. Bila Anda investor portofolio, bagian ini penting buat Anda.

Untuk Anda yang merupakan investor saham, PPh Final untuk saham sebesar 0,1% dari penghasilan bruto. Misalnya, penghasilan bruto Anda dari penjualan saham di bursa sebesar Rp 10 juta, maka Anda akan mengisi sendiri PPh Terutang Anda, yakni sebesar Rp 10.000.

Begitu pula untuk investor obligasi. Tarif PPh Finalnya adalah 15% dari penghasilan bruto yang berasal dari bunga obligasi yang Anda peroleh. Di kolom yang tersedia, Anda bisa memasukkan berapa PPh terutang dari penghasilan Anda yang dipotong 15% itu. Hitung sendiri ya...

Anda perlu juga memasukkan harta-harta Anda yang lainnya, seperti ponsel, sepeda, berlian, tanah, dan lain-lain. Menurut pengalaman KONTAN selama mengisi SPT tahun pajak 2017, apabila kolom harta sengaja tidak diisi apapun, SPT tidak bisa tersubmit.

Selain itu, utang-utang Anda juga perlu diisi jika ada. Akan tersedia pilihan untuk utang tersebut, di antaranya an bukan bank, seperti leasing. Ada pula utang kartu kredit dan utang lainnya.

Hal lain yang Anda akan temukan ialah pembayaran zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib. Dalam SPT, Anda bisa memasukkan berapa pembayaran yang Anda lakukan agar bisa menjadi pengurang penghasilan neto dalam perhitungan akhir Pajak Penghaslian (PPh) Anda. Setelah itu, Anda bisa langsung submit SPT Anda.

Hestu mengatakan, ada sanksi administratif berupa denda bagi WP yang terlambat lapor SPT. "Denda Rp 100.000 untuk WP Orang Pribadi, dan Rp 1 juta bagi WP Badan," kata Hestu.

Batas akhir pelaporan SPT bagi WP Orang Pribadi ditetapkan 31 Maret 2018, sedangkan WP Badan 30 April 2018. Ia mengimbau agar WP tidak lapor SPT mendekati tenggat waktu untuk mengantisipasi gangguan teknis yang mungkin bisa terjadi, seperti server down untuk pelaporan secara online.

Jika tenggat waktu dilanggar, menurut Hestu, akan secara otomatis terlihat di sistem Ditjen Pajak. Petugas pajak akan mengirimkan Surat Tagihan Pajak (STP) dengan nominal denda keterlambatan ke alamat wajib pajak.

Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 16432.37
USD 14447
GBP 18402.33
AUD 10478.26
SGD 10556.67
* Rupiah

Berlaku : 12 Dec 2018 - 18 Dec 2018