koran-jakarta.com     10 Jan 2018

Industri Manufaktur Sumbang Pajak Terbesar

JAKARTA – Industri pengolahan masih menjadi penyumbang pajak penghasilan (PPh) nonmigas terbesar setiap tahunnya kepada negara. Sepanjang 2017, penerimaan pajak dari sektor manufaktur ini tercatat tumbuh 17,1 persen.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan pajak tahun 2017 telah menyentuh angka 1,151 triliun rupiah. Adapun pajak penghasilan (PPh) dari sektor nonmigas sebesar 596,89 triliun rupiah.

“Industri pengolahan terus menjadi kontributor tertinggi terhadap penerimaan PPh nonmigas, yang mana tahun ini mencapai 31,8 persen. Selanjutnya, diikuti sektor perdagangan 19,3 persen, jasa keuangan 14 persen, dan pertanian 1,7 persen,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (9/1).

Airlangga menjelaskan tiga sektor yang berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, yakni industri pengolahan mencapai 22 persen, perdagangan 13,8 persen dan pertanian 13,8 persen. Aktivitas industri konsisten membawa multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Sumbangsih tersebut antara lain melalui peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor. Karena itu, Kementerian Perindustrian fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri.

Peningkatan nilai tambah ini misalnya dilakukan oleh industri berbasis agro dan tambang mineral yang telah menghasilkan berbagai produk hilir seperti turunan kelapa sawit dan stainless steel. Untuk jumlah ragam produk hilir kelapa sawit, meningkat menjadi 154 produk sepanjang 2015-2017 dibanding 2014 sekitar 126 produk.

Serapan Pekerja

Mengenai penyerapan tenaga kerja, Kemenperin memprediksi total tenaga kerja yang terserap di sektor manufaktur pada 2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 15,54 juta orang.

Kemenperin mencatat ekspor industri pengolahan nonmigas sampai November 2017 sebesar 114,67 miliar dollar AS atau naik 14,25 persen dibandingkan periode sama 2016 sekitar 100,36 miliar dollar AS. Ekspor industri pengolahan nonmigas ini memberikan kontribusi hingga 74,51 persen dari total ekspor nasional sampai November 2017 mencapai 153,90 miliar dollar AS.

Di kesempatan lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi (migas) pada 2017 lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sektor migas menyumbang sekitar 138 trilliun rupiah terhadap penerimaan negara sepanjang 2017.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial menyebutkan pada 2016 sekitar 86,8 trilliun rupiah. “Realisasi 2017 lebih tinggi 17 persen dari target yang ditetapkan APBN-P 2017,” katanya.


Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 17014.85
USD 13770
GBP 19640.12
AUD 10690.29
SGD 10505.06
* Rupiah

Berlaku : 18 Apr 2018 - 24 Apr 2018